Bab I Pendahuluan disertai contoh gap teori dan novelty

BAB I Pendahuluan – Pendidikan Inklusif di Sekolah Formal

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan inklusif merupakan pendekatan pendidikan yang menegaskan hak setiap peserta didik untuk memperoleh layanan pendidikan yang setara, adil, dan bermutu tanpa diskriminasi atas dasar perbedaan kemampuan fisik, intelektual, sosial, budaya, ekonomi, maupun latar belakang agama. Paradigma ini berkembang sebagai respons terhadap praktik pendidikan eksklusif yang cenderung meminggirkan kelompok tertentu, khususnya peserta didik berkebutuhan khusus dan mereka yang berasal dari latar belakang minoritas.

Dalam konteks pendidikan formal di Indonesia, pendidikan inklusif telah memperoleh legitimasi yuridis melalui berbagai kebijakan nasional yang mendorong integrasi peserta didik dengan keragaman karakteristik ke dalam sekolah reguler. Meskipun demikian, implementasi pendidikan inklusif di sekolah formal masih menghadapi berbagai persoalan, antara lain keterbatasan kompetensi guru, pendekatan pedagogis yang belum adaptif, serta pemahaman inklusivitas yang masih bersifat administratif dan prosedural.

Dalam perspektif Pendidikan Kristen, pendidikan inklusif tidak hanya dipahami sebagai strategi pedagogis, tetapi sebagai perwujudan nilai-nilai iman Kristen. Pendidikan Kristen berakar pada keyakinan bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei) dan karena itu memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Nilai kasih, penerimaan, keadilan, dan pelayanan terhadap sesama menjadi fondasi etis dan teologis yang seharusnya mewarnai seluruh praktik pendidikan Kristen.

Namun demikian, realitas menunjukkan bahwa praktik pendidikan inklusif di sekolah formal berciri Kristen belum sepenuhnya berangkat dari refleksi teologis Pendidikan Kristen. Dalam banyak kasus, pendidikan inklusif diterapkan dengan mengadopsi konsep dan model dari pendidikan umum tanpa integrasi yang memadai dengan nilai, visi, dan misi Pendidikan Kristen. Akibatnya, pendidikan inklusif berpotensi kehilangan kedalaman makna teologis dan direduksi menjadi sekadar pemenuhan tuntutan kebijakan.

Berbagai penelitian terdahulu mengenai pendidikan inklusif umumnya menitikberatkan pada aspek kebijakan pendidikan, manajemen sekolah, serta strategi pembelajaran dari perspektif pedagogi umum. Kajian yang secara eksplisit mengintegrasikan pendidikan inklusif dengan kerangka teologis dan pedagogis Pendidikan Kristen masih relatif terbatas. Kesenjangan inilah yang menunjukkan adanya kebutuhan akan penelitian yang secara khusus mengkaji pendidikan inklusif dalam perspektif Pendidikan Kristen di sekolah formal.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  • Pendidikan inklusif di sekolah formal masih cenderung dipahami secara administratif dan belum bersifat transformatif.
  • Implementasi pendidikan inklusif di sekolah Kristen belum sepenuhnya berlandaskan refleksi teologis Pendidikan Kristen.
  • Guru Pendidikan Kristen belum memiliki kerangka konseptual yang integratif antara iman Kristen, pedagogi, dan inklusivitas.
  • Terdapat kesenjangan antara nilai ideal Pendidikan Kristen dan praktik pendidikan inklusif di lapangan.
  • Terbatasnya model pendidikan inklusif yang dirumuskan secara khusus dalam perspektif Pendidikan Kristen.

1.3 Batasan Masalah

Untuk menjaga fokus dan kedalaman penelitian, maka batasan masalah dalam penelitian ini ditetapkan sebagai berikut:

  • Penelitian difokuskan pada pendidikan inklusif di sekolah formal berciri Kristen.
  • Kajian dibatasi pada aspek konseptual dan praksis pendidikan inklusif dalam perspektif Pendidikan Kristen.
  • Penelitian menitikberatkan pada peran guru dan pendekatan pedagogis.
  • Konteks penelitian dibatasi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana konsep pendidikan inklusif dalam konteks sekolah formal?
  2. Bagaimana landasan teologis Pendidikan Kristen dalam mendukung pendidikan inklusif?
  3. Bagaimana praktik pendidikan inklusif di sekolah formal berciri Kristen?
  4. Apa saja tantangan dan peluang implementasi pendidikan inklusif dalam Pendidikan Kristen?
  5. Bagaimana model pendidikan inklusif yang berakar pada nilai-nilai Pendidikan Kristen?

1.5 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mendeskripsikan konsep pendidikan inklusif dalam konteks sekolah formal.
  2. Menganalisis landasan teologis Pendidikan Kristen yang relevan dengan pendidikan inklusif.
  3. Mengkaji praktik pendidikan inklusif di sekolah formal berciri Kristen.
  4. Mengidentifikasi tantangan dan peluang implementasi pendidikan inklusif.
  5. Merumuskan model konseptual pendidikan inklusif berbasis Pendidikan Kristen.

1.6 Manfaat Penelitian

1.6.1 Manfaat Teoretis

Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan keilmuan Pendidikan Kristen, khususnya dalam kajian pendidikan inklusif, serta mengisi kesenjangan teoretis antara pedagogi inklusif dan teologi Pendidikan Kristen.

1.6.2 Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi guru, pengelola sekolah, dan lembaga pendidikan Kristen dalam mengembangkan praktik pendidikan inklusif yang berlandaskan iman Kristen dan relevan dengan konteks sekolah formal.

1.7 Kebaruan Penelitian (Novelty)

Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi konseptual antara pendidikan inklusif dan Pendidikan Kristen, khususnya melalui pengembangan kerangka teologis yang bersumber pada doktrin imago Dei, kasih Kristus, dan panggilan pelayanan. Penelitian ini tidak sekadar mengadopsi teori inklusivitas dari pendidikan umum, tetapi merekonstruksinya dalam perspektif iman Kristen yang kontekstual dan aplikatif.

1.8 Kesenjangan Teori (Research Gap)

Sebagian besar teori pendidikan inklusif dikembangkan dalam kerangka pedagogi sekuler dan belum mengintegrasikan dimensi teologis Pendidikan Kristen secara sistematis. Belum terdapat model pendidikan inklusif yang secara eksplisit dirumuskan berdasarkan nilai-nilai iman Kristen untuk konteks sekolah formal di Indonesia. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjembatani kesenjangan teoretis tersebut.

© Dr. Yonas Muanley, M.Th.
Naskah akademik untuk keperluan skripsi, tesis, dan disertasi.

Posting Komentar untuk "Bab I Pendahuluan disertai contoh gap teori dan novelty"