Minggu, 14 Agustus 2011

Berbagai Pendekatan Dalam Penelitian Ilmiah

Sebelum membahas pendekatan yang dimaksud dalam topik ini, maka perlu dijelaskan bahwa hal-hal yang mendorong diadakannya suatu penelitian ilmiah:
1. Keinginan tahuan manusia,
2. Permasalahan yang timbul,
3. Ilmu pengetahuan, dan
4. Metode ilmiah.
Berdasarkan itu maka dalam penelitian biasa dikenal ada dua pendekatan, yaitu pendekatan rasional dan empiris.

Dua cara yang yang dimaksudkan di atas telah, sedang dan akan digunakan oleh para ahli dalam upaya untuk mencari tahu sesuatu pengetahuan yang baru (epistemology) yaitu dengan cara atau pendekatan rasional dan empiris. Kedua pendekatan itu di jelaskan sbb:

1. Pendekatan Rasional
Pendekatan rasional adalah suatu cara untuk mencari tahu pengetahuan yang baru dengan anggapan bahwa segala sesuatu yang ingin diketahui itu ada di dalam pikiran manusia (internal wisdom). Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, menggunakan akal atau rasio untuk menemukan pengetahuan tersebut dari pikirannya. Dengan kata lain, pendekatan rasional dimulai dengan anggapan bahwa pengetahuan dimulai dari suatu gagasan atau pikiran yang didasarkan atas kebijaksanaan yang dimiliki seseorang.
Pendekatan rasional, segala sesuatu yang ingin diketahui itu ada di dalam pikiran manusia/idea (internal wisdom). Salah satu pemikir yang menggunakan pendekatan rasional adalah Aristotle.
Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan ini dianggap tidak layak dan disanggah oleh beberapa ahli pada masa itu. Di antara para ahli yang mengkritik pendekatan rasional adalah Francis Bacon.
Ketidakmampuan pendekatan rasional dalam memecahkan suatu masalah diilustrasikan oleh ahli filsafat dan ilmuwan Francis Bacon yang diceritakan oleh Mees dan diterjemahkan secara bebas sebagai berikut (Howard, 1985), ilustrasinya sbb:
Pada tahun 1432 timbul pertengkaran di antara para tua-tua tentang jumlah gigi yang ada di mulut seekor kuda. Selama 13 hari pertengkaran terus berlangsung tanpa jalan keluar. Pada hari keempat belas, seorang anak muda yang memiliki maksud yang baik dan polos menyarankan untuk membuka mulut seekor kuda dan mencari tahu jawaban atas pertanyaan mereka. Tangkap dia karena, kata mereka (orang-orang tua), pasti setan telah menggoda orang muda yang berani orang muda yang berani ini untuk menyatakan cara yang tidak suci dan tidak pernah didengar untuk mencari tahu kebenaran yang berlawanan dengan ajaran-ajaran para pendahulu. (Kountur, 2007:4-5)

2. Pendekatan Empiris.
Pendekatan empiris sudah dimulai kurang lebih tiga ratus tahun lalu dari pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Bacon, Locke, dan Hume.
Menurut pendekatan empiris,pengetahuan diperoleh dari hasil pengamatan terhadap fenomena yang terjadi (external process). Jawaban atas suatu permasalahan ada pada obyek (ontology) di mana masalah tersebut berada dan bukan di dalam pikiran seseorang. Apa yang harus kita lakukan adalah mengamati apa yang terjadi dan membuat kesimpulan. Contohnya seperti pada ilustrasi “gigi kuda” di atas, cara yang terbaik adalah mengamati. Buka mulut kuda dan amati (dengan cara menghitung) maka permasalahan berapa jumlah gigi kuda tersebut akan segera terjawab.
Menurut pendekatan empiris, pengetahuan didapatkan atas berbagai fakta yang diperoleh dari hasil penelitian dan observasi. Salah satu pendekatan empiris adalah metode ilmiah.

Metode Ilmiah

Metode Ilmiah adalah suatu cara memperoleh pengetahuan yang baru atau suatu cara untuk menjawab berbagai permasalahan penelitian yang dilakukan mengikuti kaidah-kaidah Ilmiah (mengikuti langkah-langkah dalam metode Ilmiah). Langkah Ilmiah itu dimulai dari: mengidentifikasi masalah, merumuskan hipotesis, menguji hipotesis, membuat kesimpulan. Secara umum metode ilmiah dimulai dengan mengidentifikasi masalah, setelah masalah diidentifikasi, langkah berikutnya adalah merumuskan hipotesis. Hipotesis adalah jawaban sementara atau permasalahan penelitian yang kebenarannya masih perlu diuji. Kebenaran hipotesis ini kemudian diuji dengan cara mengumpulkan data dari obyek yang diteliti, kemudian data tersebut di analisis. Berdasarkan analisis atas data tersebut, dibuat kesimpulan apakah akan menerima atau menolak hipotesis (Kountur, 2007:6-8).
Lankah-langkah Ilmiah dapat digambarkan sbb:

Tugas Akhir Kesarjanaan

Tugas akhir penelitian atau disebut tugas akhir kesarjanaan, biasanya dikenal dalam tiga macam tugas akhir kesarjanaan. Tugas akhir ini dilakukan lewat penelitian ilmiah. Ada tiga macam tugas akhir kesarjanaan yang dilakukan lewat penelitian, yaitu
1. Skripsi
2. tesis dan
3. disertasi

Perbedaan antara Skripsi dan Tesis

Dasar perbedaan Skripsi Tesis Disertasi
Tingkat kesarjanaan Strata 1 (Sarjana) Strata 2 (magister)
Jenis Penelitian Deskriptif (kuantitatif/kualitatif)
Korelasi Deskriptif (kuantitatif/kualitatif)
Korelasi
Eksperimen Strata 3 (doctor)
Deskriptif (kualitatif)
Korelasi
Eksperimen
Aplikasi Terapan Terapan
Pengujian teori
Pengembangan teori Pengembangan teori
Penemuan teori baru
Kerumitan (Banyaknya variabel yang terlibat pada penelitian kuantitatif) Sederhana
(minimum 1 variabel jika deskripstif, atau 2 variabel jika korelasi Kompleks
(minimum 3 variabel) Sangat kompleks
(minimum 5 variabel, disarankan lebih banyak)

Sumber: Ronny Kountur, 2007:13

Variabel Penelitian Pendidikan Agama Kristen

Pengertian variabel dalam konteks Pendidikan Agama Kristen diartikan konsep-konsep disekitar isi PAK yang dapat diukur ketika diteliti secara ilmiah. Dengan kata lain judul skripsi, tesis, disertasi dalam pendidikan Agama Kristen adalah judul (konsep) yang dapat diukur. Misalnya, konsep (judul) Sorga, kerajaan Allah dll adalah konsep yang tidak dapat diukur, tetapi bila dijadikan variabel maka dapat dikur. Sorga dijadikan menjadi “tingkat pemahaman warga gereja tentang Sorga”, Tingkat pemahaman warga jemaat tentang kerajaan Allah” dan seterusnya. Inilah yang disebut variabel penelitian PAK.

Pengertian Variabel Penelitian

Menurut Kountur, variabel adalah bentuk yang dapat diukur dari konsep. Dengan kata lain, variabel adalah konsep yang dapat diukur.
Konsep adalah pengertian abstrak yang digunakan para ilmuwan sebagai komponen dalam membangun proposisi dan teori. Konsep juga dipakai dalam memberikan arti dari sesuatu. Misalnya, konsep tentang “raut muka”, konsep tentang “marah” memberikan arti yang berbeda dengan konsep tentang “bahagia”
Teori adalah system dari proposisi atau teori adalah kumpulan dari proposisi yang saling berkaitan.

Kerangka Konsep

Berbagai teori yang telah dikumpulkan pada landasan teori (bab II) dan telah diuraikan harus dapat menghasilkan beberapa konsep. Hubungan antara berbagai konsep yang didasarkan atas teori tersebut disebut kerangka konsep.
Kerangka konsep adalah gambaran hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Dari berbagai teori yang telah dikumpulkan, akan diperoleh beberapa konsep. Apabila konsep-konsep itu dihubungkan satu sama lain, untuk memberikan suatu gambaran atas suatu fenomena, maka hubungan antara konsep inilah yang disebut dengan istilah kerangka konsep.
Untuk riset ilmu sosial, umumnya kerangka konsep digambarkan dengan menggunakan bagan-bagan yang dihubungkan dengan anak panah. Apabila hubungannya adalah sebab akibat, digunakan anak panah satu arah; sedangkan bila hubungannya adalah korelasi, digunakan anak panah dua arah. Tidak tertutup kemungkinan bahwa dua konsep saling mempengaruhi (saling menunjukkan sebab akibat), maka yang digunakan adalah dua anak panah satu arah yang masing-masing menunjuk kea rah yang berlawanan.
Mengetahui sesuatu

Penelitian berhubungan dengan usaha mengetahui sesuatu, dan usaha mencari tahu jawaban atas suatu atau beberapa masalah
Ada dua cara yang pernah digunakan oleh para ahli dalam upaya untuk mencari tahu sesuatu pengetahuan yang baru (epistemology) yaitu dengan cara atau pendekatan rasional dan empiris. Kedua pendekatan itu di jelaskan sbb:

1. Pendekatan Rasional
Pendekatan rasional adalah suatu cara untuk mencari tahu pengetahuan yang baru dengan anggapan bahwa segala sesuatu yang ingin diketahui itu ada di dalam pikiran manusia (internal wisdom). Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, menggunakan akal atau rasio untuk menemukan pengetahuan tersebut dari pikirannya. Dengan kata lain, pendekatan rasional dimulai dengan anggapan bahwa pengetahuan dimulai dari suatu gagasan atau pikiran yang didasarkan atas kebijaksanaan yang dimiliki seseorang.
Pendekatan rasional, segala sesuatu yang ingin diketahui itu ada di dalam pikiran manusia/idea (internal wisdom). Salah satu pemikir yang menggunakan pendekatan rasional adalah Aristotle.
Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan ini dianggap tidak layak dan disanggah oleh beberapa ahli pada masa itu. Di antara para ahli yang mengkritik pendekatan rasional adalah Francis Bacon.
Ketidakmampuan pendekatan rasional dalam memecahkan suatu masalah diilustrasikan oleh ahli filsafat dan ilmuwan Francis Bacon yang diceritakan oleh Mees dan diterjemahkan secara bebas sebagai berikut (Howard, 1985), ilustrasinya sbb:
Pada tahun 1432 timbul pertengkaran di antara para tua-tua tentang jumlah gigi yang ada di mulut seekor kuda. Selama 13 hari pertengkaran terus berlangsung tanpa jalan keluar. Pada hari keempat belas, seorang anak muda yang memiliki maksud yang baik dan polos menyarankan untuk membuka mulut seekor kuda dan mencari tahu jawaban atas pertanyaan mereka. Tangkap dia karena, kata mereka (orang-orang tua), pasti setan telah menggoda orang muda yang berani orang muda yang berani ini untuk menyatakan cara yang tidak suci dan tidak pernah didengar untuk mencari tahu kebenaran yang berlawanan dengan ajaran-ajaran para pendahulu. (Kountur, 2007:4-5)

2. Pendekatan Empiris.
Pendekatan empiris sudah dimulai kurang lebih tiga ratus tahun lalu dari pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Bacon, Locke, dan Hume.
Menurut pendekatan empiris,pengetahuan diperoleh dari hasil pengamatan terhadap fenomena yang terjadi (external process). Jawaban atas suatu permasalahan ada pada obyek (ontology) di mana masalah tersebut berada dan bukan di dalam pikiran seseorang. Apa yang harus kita lakukan adalah mengamati apa yang terjadi dan membuat kesimpulan. Contohnya seperti pada ilustrasi “gigi kuda” di atas, cara yang terbaik adalah mengamati. Buka mulut kuda dan amati (dengan cara menghitung) maka permasalahan berapa jumlah gigi kuda tersebut akan segera terjawab.
Menurut pendekatan empiris, pengetahuan didapatkan atas berbagai fakta yang diperoleh dari hasil penelitian dan observasi. Salah satu pendekatan empiris adalah metode ilmiah
Metode Ilmiah adalah suatu cara memperoleh pengetahuan yang baru atau suatu cara untuk menjawab berbagai permasalahan penelitian yang dilakukan mengikuti kaidah-kaidah Ilmiah (mengikuti langkah-langkah dalam metode Ilmiah). Langkah Ilmiah itu dimulai dari: mengidentifikasi masalah, merumuskan hipotesis, menguji hipotesis, membuat kesimpulan. Secara umum metode ilmiah dimulai dengan mengidentifikasi masalah, setelah masalah diidentifikasi, langkah berikutnya adalah merumuskan hipotesis. Hipotesis adalah jawaban sementara atau permasalahan penelitian yang kebenarannya masih perlu diuji. Kebenaran hipotesis ini kemudian diuji dengan cara mengumpulkan data dari obyek yang diteliti, kemudian data tersebut di analisis. Berdasarkan analisis atas data tersebut, dibuat kesimpulan apakah akan menerima atau menolak hipotesis (Kountur, 2007:6-8).

Motivasi mengetahui sesuatu

Ronny Kountur menyatakan:

Ingin mengetahui sesuatu merupakan salah satu sifat manusia (baca: peneliti). Sifat ingin tahu mendorong manusia (peneliti) untuk berusaha mencari tahu apa yang belum diketahui. Penelitian berhubungan dengan usaha untuk mengetahui sesuatu. Selain itu, penelitian berhubungan pula dengan usaha untuk mencari tahu jawaban atas suatu atau beberapa permasalah (masalah penelitian)


1. Masalah Penelitian dan penetapan variabel penelitian (Bab I Tesis)

Setiap penelitian ilmiah: skripsi, tesis, dan disertasi harus dimulai dengan masalah.
Memahami secara baik, apa yang dimaksud dengan masalah penelitian, akan sangat membantu peneliti dalam memaparkan latar belakang masalah secara jelas dalam bagian latar belakang masalah penelitian.
Sering terjadi bahwa apa yang dipaparkan dalam latar belakang masalah tidak menunjukkan masalah, tetapi pernyataan-pernyataan yang sifatnya bukan masalah, ada pula yang bersifat pernyataan solusi. Oleh karena itu perlu dipahami apa itu masalah penelitian?

1.1. Beberapa definisi tentang masalah penelitian ilmiah

Andreas Subagyo, mengutip pendapat Locke, Spirduso, dan Silverman tentang pengertian masalah penelitian sbb:
 Masalah penelitian adalah pengalaman ketika kita menghadapi situasi yang tidak memuaskan. Situasi itu harus betul-betul tidak memuaskan sehingga diraskan sebagai masalah untuk diteliti secara ilmiah. Pengalaman itu bukan saja pengalaman dalam praktik, melainkan juga dalam mengamati dua teori yang bertentangan .
Sugiyono mendefinisikan:
 Masalah penelitian adalah penyimpangan dari standar keilmuan maupun aturan yang berhubungan dengan obyek penelitian. Penyimpangan itu perlu ditunjukkan dalam data.
Pandangan lain:
 Masalah penelitian adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan
 Malasah penelitian adalah perbedaan antara teori (yang tertulis) dengan praktik (apa yang terjadi/implementasinya)


1.2. Kelayakan masalah penelitian

Menurut Sasmoko, Penelitian harus diawali dengan masalah. Maslah yang diteliti haruslah memenuhi kelayakan atau layak diteliti. Selanjutnya peneliti menguraikan masalah penelitian, yaitu dengan mendemostrasikan penguasaan masalah dengan cara menulis latar belakang masalah.

1.3. Sumber Masalah Penelitian

Sumber mendapatkan masalah penelitian

Andreas Subagyo

Sumber masalah penelitian bisa didapatkan dengan bertolak dari teori, teologi, atau filsafat. Ada masalah di dalam bidang teologi, biblika, perbandingan agama, psikologi agama, sejarah gereja, pendidikan agama, pelayanan keagamaan dan lain-lain .

Sasmoko
Sumber masalah penelitian dapat diperoleh melalui: pengalaman (pengalaman peneliti), deduksi teori, hasil penelitian orang lain, sumber dari inspirasi di bidang lain.
Sumber masalah dari pengalaman. Sumber masalah yang berguna bagi peneliti adalah dari pengalaman peneliti sendiri, baik pengalaman mengajar maupun pelayanan.

2. Variabel Penelitian

Menurut Sasmoko, setiap penelitian selalu memiliki variabel, baik itu penelitian kualitatif maupun kuantitatif.
Bila peneliti merasa tidak memiliki variabel, maka peneliti pada saat itu sedang bingung.
Minimal yang harus dimiliki penelitia adalah variabel terikat (dependent variabel) atau variabel utama penelitian (Y)

Pengertian Variabel Penelitian

Variabel adalah konsep yang diberi lebih dari satu nilai. Oleh karena itu, variabel dapat disebut atribut dari seseorang dengan yang lainnya atau objek yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lainnya
Tinggi badan, berat badan, motivasi kerja, gaya kepemimpinan, disiplin kerja, etos kerja, kinerja merupakan atribut-atribut dari setiap orang. Berat, ukuran, bentuk, dan warna merupakan atribut dari obyek. Disebut variabel karena ada variasinya.

Variabel dalam penelitian kualitatif dapat disebut konsep penelitian yang dibangun oleh peneliti berdasar pada suatu teori, sehingga mengandung suatu ciri khas yang dapat diukur atau dapat menunjukkan suatu derajad. Oleh karena itu, dalam membangun hubungan di antara variable/konsep penelitian, peneliti harus mendasarkan diri pada penalaran yang bersumber dari pemikiran sendiri atau terinspirasi oleh teori yang sudah ada
Contoh variabel:
Tinggi badan disebut variabel, karena tinggi badan sekelompok orang itu bervariasi antara satu orang dengan yang lainnya.
Kerlinger menyebut variabel adalah construct (konstruk atau bangunan pengertian atau sifat yang akan dipelajari)
Variabel juga disebut sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda. Artinya variabel adalah sesuatu yang bervariasi.
Namun jika ditinjau dari konsepnya, maka atribut adalah berbeda dengan variabel. Atrbut adalah konsep yang memiliki cirri khas yang dikandungnya, sehingga dapat dibedakan. pengertian atau dalam bentuk pernyataan yang telah dibentuk oleh akal peneliti dan telah diberi makna. Konsep ini sering dipergunakan dalam penelitian kualitatif, sehingga setiap peneliti memiliki otoritas dan ketergantungan terhadap teori. Contoh: wanita, Jawa, kaya, dll. Variabel adalah konsep yang mengandung cirri khas yang dapat diukur atau dapat menunjukkan suatu derajat. Contoh: sifat kewanitaan, kejawaan, kekayaan, dll. Disebut variabel, karena mempunyai arah pengukuran nominal, ordinal, interval, atau rasio.
Berdasarkan pengertian di atas, variabel dapat dirumuskan sebagai suatu atribut atau sifat atau aspek dari orang atau obyek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari, didalami, dan ditarik kesimpulan.
Di samping variabel berfungsi sebagai pembeda, variabel juga dapat dilihat keterkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Fenomena social dapat dijelaskan dan diramalkan apabila hubungan antar variabel tertentu telah diketahui. Pedomannya untuk mengetahui variabel yang saling berhubungan dari sekian banyak kemungkinan yang terjadi yaitu berdasarkan pengembangan teori atau uraian tentang hakikat teori.

Beberapa contoh variabel
Variabel tipe kendaraan,memiliki atribut:
a. beroda dua
b. beroda tiga
c. beroda empat
Variabel tingkat pendidikan, memiliki atribut:
a. tidak sekolah
b. tidak tamat SD
c. SD
d. SMP
e. SMU
f. PT
Variabel Warna memiliki atribut:
a. merah
b.putih
c. biru
d. kuning dst.
Variabel status perkawinan memiliki atribut:
a. belum kawin
b. kawin
c. janda
d. duda
e.pisah
f. kebo
g. kawin saksi
h. kawin teplok
i. kawin suri
j. kawin gantung
k. kawin di bawah tangan
l. hasil cloning
m. inseminasi buatan
Dalam penyusunan kuesioner dan juga analisis data, atribut suatu variabel perlu diketahui secara lengkap. Dengan atribut-atribut tersebut, peneliti akan lebih mampu memperdalam temuannya.

3. Konstruk/bangunan pengertian Variabel yang diteliti

Konstruk atau bangunan pengertian adalah definisi peneliti yang terinspirasi berdasarkan kajian teoritis-teologis terhadap variabel yang ditelitinya. Dengan kata lain setelah kajian teori atas variabel penelitian (Y) dan (X) disusun dengan baik, maka yang harus dilakukan peneliti adalah menutup uraian teori pervariabel tersebut dengan suatu construct atau bangunan pengertian atau konsep yang dipergunakan dalam penelitian. Atau di akhir uraian setiap variabel harus disimpulkan sebuah definisi konseptual yang akan dipakai di dalam penelitian.
Construct merupakan pendapat peneliti tentang variabel tersebut, di mana maknanya akan dipergunakan sebagai landasan dalam penelitian. Construct lahir karena peneliti terinspirasi dari berbagai teori atau kajian yang disusunnya. Penempatan construct adalah pada alinea terakhir dari setiap kajian teori per variabel (hakikat variabel).
Isi yang terkandung dalam construct antara lain: definisi konseptual; dimensi; dan indikator

4. Nama-nama Variabel

Ada banyak nama variabel, tetapi yang dikemukakan disini hanya 3 variabel (yang lain dapat dipelajari dalam buku Prof. Dr. Sasmok, Metode Penelitian, hlm. 26-31)

Nama 3 variabel yang dimaksud sbb:

4.1. Variabel bebas (independent variable): sering disebut variabel stimulus, predictor, anteceden, atau juga independent variable. Variabel ini adalah variabel yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (Y)
4.2. Variabel Terikat (dependent variable): sering disebut variable output, criteria, konsekuen, atau dependent variable. Variabel ini adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.
4.3. Variabel Moderator adalahvariabel yang berfungsi melakukan kategorisasi dalam melakukan analisis perbedaan dari variabel bebas atau terikat
Contoh:
Kasus: suatu pusat pendidikan dan litihan sepak bola melakukan latihan dengan tehnik tertentu antara kelompok pria dan wanita. Pelatih kedua kelompok; bola yang digunakan; lapangan tempat latihan; kostum yang dipakai; tempat tidur; waktu istirahat malam; sabun mandi; dan menu makanan adalah sama.
Variabel bebas: tehnik latihan sepakbola
Variabel terikat: prestasi permainan
Rumusan masalah: apakah terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan prestasi permainan sepakbola
Setelah dilakukan analisis: ternyata kelompok pria prestasinya lebih baik disbanding kelompok wanita
Mengapa demikian? Karena ada variabel moderatornya yaitu jenis kelamin. Jenis kelamin inilah yang memperlemah hubungan variabel bebas dengan terikat.


Kajian Teoritis-Teologis Variabel Penelitian dalam PAK
(Bab II Tesis)

Pengertian teori
Dalam bab II, biasanya dilakukan pembahasan yang berhubungan dengan topic atau variable penelitian. Dengan kata lain, judul dibahas secara tuntas dengan didukung oleh teori-teori yang relevan.
Mari kita memperhatikan penjelasan para ahli tentang teori. Menurut Kerlinger dalam Nur Indrianto dan Bambang Supomo menyatakan: teori adalah suatu kumpulan construct (bangunan pengertian) atau konsep (concepts), definisi (definitions), dan proposisi (proposition) yang menggambarkan fenomena secara sistematis melalui penentuan hubungan antar variabel dengan tujuan untuk menjelaskan (memprediksi) fenomena alam. Dalam definisi ini diungkap tiga pokok dalam sebuah teori, yaitu:
a. Elemen teori terdiri atas: construct, konsep, definisi dan proposisi
b. Elemen-elemen teori memberikan gambaran sistematis mengenai fenomena mealui penentuan
hubungan antar variabel
c. Tujuan teori adalah untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena alam

Konsep-konsep (concepts) atau construct keduanya merupakan elemen-elemen teori. Konsep dan construct mudah dikacaukan, karena keduanya memiliki pengertian yang mirip. Istilah construct menurut kanus juga berarti konsep. Akan tetapi untuk keperluan penelitian maka dua istilah ini dibedakan. Construct penelitian merupakan dasar pemikiran peneliti yang kemudian dikomunikasikan kepada orang lain. Peneliti perlu merumuskan konsep atau construct penelitian dengan baik agar hasilnya dapat dimengerti oleh orang lain dan memungkinkan untuk direplikasi atau diekstensi oleh peneliti yang lain. Misalnya, penelitian yang menguji “apakah kemampuan berkomunikasi mempunyai pengaruh terhadap prestasi akademik mahasiswa IKSM SA”. Agar dapat dinyatakan dalam rumusan masalah penelitian yang jelas (tidak ambiguitas) dan merupakan hipotesis yang dapat diuji melalui pengumpulan dan analisis data, perlu kejelasan: apa yang dimaksud dengan “kemampuan komunikasi”? prestasi akademik yang mana? Siapa yang dimaksud sebagai mahasiswa? Pertanyaan-pertanyaan tersebut berkaitan dengan konsep dan construct penelitian” (definisi konseptual dari variabel penelitian).
Konsep mengekspresikan suatu abstraksi yang terbentuk melalui generalisasi dari pengamatan terhadap fenomena-fenomena. Konsep merupakan abstraksi dari realitas yang tersusun dengan mengklasifikasikan fenomena-fenomena (antara lain berupa: objek, kejadian, atribut, atau proses) yang memiliki kesamaan karakteristik. Misalnya prestasi akademik merupakan konsep yang mengekspresikan abstraksi dari kemampuan belajar mahasiswa antara lain dalam: mengerjakan bahasa Ibrani, menyusun laporan keuangan gereja, membuat bagan dll. Bobot adalah konsep yang menyatakan abstraksi dari suatu benda yang mempunyai karakteristik berat atau ringan. Jadi ada banyak konsep: tanah, gedung, peralatan, kendaraan, aktiva tetap, kepuasan kerja, motivasi kerja, sikap terhadap pekerjaan, pengalaman pertama, dst.
Construct sebenarnya bukan hanya merupakan konsep-konsep yang lebih abstrak, melainkan mempunyai makna tambahan yang sengaja diadopsi untuk keperluan ilmiah.
Misalnya, kepuasan sebagai konsep merupakan suatu abstraksi dari pengamatan terhadap fenomena psikologis yang dirasakan oleh seseorang. Perasaan tersebut merupakan respon seseorang terhadap obyek tertentu yang dinyatakan dengan perasaan puas atau tidak puas.
Construct kepuasan kerja merupakan abstraksi dari fenomena psikologis seseorang terhadap pekerjaan yang dapat diamati berdasarkan persepsi yang bersangkutan terhadap berbagai dimensi lingkungan pekerjaan, antara lain: (1) tugas-tugas yang dikerjakan, (2) atasannya, (3) rekan sekerja, (4) kompensasi pekerjaan, (5) promosi karier. Masing-masing dimensi lingkungan pekerjaan tersebut merupakan dimensi-dimensi construct kepuasan yang tersusun menjadi construct yang lebih abstrak yaitu kepuasaan kerja.
Construct sengaja digunakan secara sistematis untuk penelitian ilmiah melalui dua cara (1) mengoperasionalisasikan construct kedalam konsep-konsep yang dapat diamati dan diukur menjadi variabel penelitian, (2) menghubungkan construct yang satu dengan construct yang lain menjadi suatu konstruksi teori. Misalnya, inovatif dan kreatif merupakan bagian dari fungsi kepuasaan kerja dan prestasi kerja.

Minggu, 07 Agustus 2011

Pengertian dan Konsep-konsep Dasar Penelitian Ilmiah


Metodologi Penelitian Pendidikan Keagamaan (PAK dan Teologi)
Oleh: Yonas Muanley
Deskripsi
Melalui pembahasan ini, para pembaca yang sedang berusaha mengadakan penelitian ilmiah dalam bidang disiplin ilmu Teologi dan Pendidikan agama Kristen dapat memperoleh informasi ilmiah di sekitar metodologi penelitian.
Penelitian selalu dimulai dengan system filsafat ilmu yang tidak dapat dihindari oleh peneliti manapun, aksioma itu  yaitu ontology, epistemology dan aksiology. Ketiga bidang ini bila dikaitkan dengan penelitian dalam Teologi (baik jurusan biblika, misiologi, sejarah, pastoral dll) dan Pendidikan Agama Kristen maka dalam penelitian Teologi dan PAK juga harus bersinggungan dengan ontology Teologi/ontology Pendidikan Agama Kristen yaitu hakekat apa yang diteliti. Apakah yang diteliti itu benar-benar ada (realitas). Epistemology Teologi dan Epistemology Pendidikan Agama Kristen yaitu bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar terhadap apa yang diteliti. Ini berarti, metode penelitian termasuk bagian dari epistemology (cara mendapatkan pengetahuan yang benar), sedangkan aksiology Teologi dan Aksiology Pendidikan Agama Kristen yaitu sejauh mana apa yang diteliti memiliki nilai atau kegunaan bagi kehidupan manusia. Aspek yang terakhir berkenaan juga dengan etika (benar-salah)  dan estetika (nilai keindahan, keharmonisan). Aspek-aspek ini tidak dapat dihindari dalam suatu penelitian Ilmiah.
Sekarang saya mulai dengan bagian pertama dari Metodologi Penelitian, yaitu pengertian penelitian
1.    Pengertian Metodologi Penelitian
Definisi Penelitian Ilmiah (Tesis)
1.    Penelitian Ilmiah (Tesis) adalah suatu usaha untuk mengumpulkan, mencatat dan menganalisa sesuatu masalah.
2.    Penelitian Ilmiah (Tesis) suatu penyelidikan secara sistematis, atau dengan giat dan berdasarkan ilmu pengetahuan mengenai sifat-sifat daripada kejadian atau keadaan-keadaan dengan maksud untuk akan menetapkan faktor-faktor pokok atau akan menemukan paham-paham baru dalam mengembangkan metode-metode baru.
3.    Penelitian Ilmiah (Tesis) adalah suatu penyedilidikan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan utnuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati serta sistematis.
4.    Penelitian Ilmiah (Tesis) adalah usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan usaha mana dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmiah.
5.    Penelitian Ilmiah (Tesis) pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.
 Kesimpulan:
  1. Penelitian Ilmiah Tesis adalah usaha untuk memperoleh fakta-fakta atau mengembangkan prinsip-prinsip (menemukan/mengembangkan/ menguji kebenaran).
  2. Penelitian Ilmiah Tesis dilakukan dengan cara/kegiatan mengumpulkan, mencatat dan menganalisa data (informasi/keterangan)
  3. Penelitian Ilmiah Tesis dikerjakan dengan sabar, hati-hati, sistematis dan berdasarkan ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah.

2.    Konsep-konseop dasar penelitian ilmiah yang perlu diketahui sebelum meneliti

Apa yang perlu diketahui dan dilakukan oleh Peneliti, khususnya saya.
Saya harus mengetahui Konsep-konsep dasar Penelitian Ilmiah. Artinya “sebelum seseorang mengusulkan, melaksanakan penelitian, dan melaporkan hasilnya, ia perlu memahami konsep-konsep dasar mengenai penelitian”. Konsep-konsep dasar penelitian itu meliputi:
1.    Arti dan Fungsi Penelitian menurut Paradigma Positivis, paradigm Post-Positivis, penelitian Teologi dan Keagamaan dengan pendekatan positivis maupun Post-Positivis serta fungsi Penelitian.
Arti dan fungsi penelitian bergantung pada paradigma dari pemberi arti penelitian. Bila paradigmanya positivis (penganut penelitian kuantitatif) maka definisi penelitian tentu dirumuskan berdasarkan pandangan positivis, sebaliknya bila yang memberi arti penelitian adalah seorang penganut paradigma psot-positivis (penganut penelitian kualitatif) maka rumusan tentang arti penelitian akan berangkat dari sudut pandang penelitian kualititif. Walaupun ada perbedaan tetapi asumsi dan proposisi atau perangkat aksioma (prinsip atau aturan yang ditetapkan) berhubungan dengan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan filosofis penelitian yang berangkat dari kedua paradigma di atas tidak dapat menghindari beberapa pertanyaan berikut ini:
1)    Pertanyaan ontologis                : pertanyaan mengenai bentuk dan sifat realitas yang dapat diketahui. Dengan kata lain, apa hakekat penelitian (objek yang diteliti benar-benar ada?). Meneliti kucing, apakah kucing dalam realitas atau kucing dalam ide. Hakekat Sorga, Naraka dll.
2)    Pertanyaan epistemology        : pertanyaan mengenai hubungan antara yang mengetahui dan yang dapat diketahui. Dengan kata lain, apakah pengetahuan yang dimiliki sesuai dengan kenyataan (bagaimana yang dapat pengetahuan yang benar tentang objek yang diteliti). Cara mendapatkan pengetahuan yang benar
3)    Pertanyaan metodologis          : pertanyaan mengenai cara mengetahui yang dapat diketahui. Metode mana yang dipakai untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang obyek yang diteliti.
4)    Pertanyaan aksiologis : pertanyaan mengenai jenis pengetahuan apa yang bernilai. Apakah hasil penelitian yang akan saya lakukan itu memiliki kegunaan.
Pertanyaan-pertanyaan di atas mempengaruhi pandangan seseorang tentang fungsi penelitian, khususnya Penelitian Pendidikan Agama Kristen.
a.    Arti Penelitian Menurut Paradigma Positivis
Penelitian Ilmiah atau riset adalah mengetahui dan atau berpikir ilmiah dengan cirri riset: pengendalian prasangka (bias) atau mengurangi prasangka terhadap data/data tidak diartikan secara gegabah berdasarkan criteria selera pribadi melainkan bertindak netral dalam mengumpulkan data dan menganalisisnya; upaya ketepatan yaitu dapat dipercaya, menuntut adanya pengukuran yang tepat; Verifikasi yaitu peneliti melaporkan hasil penelitian yang kemudian dapat diteliti oleh orang lain baik untuk menguatkan teori maupun menolak teori/hasil penelitian sebelumnya; Empirisme yaitu pengetahuan yang dibangun harus berdasarkan pengetahuan pada pengamatan peristiwa-peristiwa tertentu yang dilakukan secara cermat;konstruksi teori yaitu upaya menyusun toeri yang dapat menjelaskan gejala yang diteliti.
b.    Arti penelitian menurut paradigma post-positivis (paradigma penelitian kualitatif). Paradigma post-positivis didasarkan pada aksioma bahwa realitas atau yang benar itu lebih dari satu, merupakan hasil bentukan, dan holistic; hubungan antara yang mengetahui dan yang diketahui tidak dipisahkan dan interaktif; tidak mungkin melalkukan generalisasi yang bebas waktu dan konteks, dan hipotesis yang dapat dibuat hanyalah yang terikat waktu dan konteks; tidak ada sebab yang sebenarnya karena semua entitas dalam keadaan secara serempak saling membentuk; serta penelitian itu terikat pada nilai. Berdasarkan Aksioma ini, arti penelitian adalah sebuah pencarian kebenaran yang sistematik, penyelidikan kebenaran yang tepat yang tidak membuang apa yang baik dari pencarian kebenaran secara naïf.

Ciri-ciri yang perbedaan variasi paradigma post-positivis (paradigma partisipatori) dengan paradigma positivis yaitu:

Ø  Segi Ontologi, positif percaya pada realitas yang sebanarnya dapat dipahami. Sedangkan menurut post-positivis, realitas dapat dipahami, tetapi tidak secara sempurna dan hanya secara kemungkinan. Realitas itu dapat dibentuk oleh nilai-nilai social, politik, budaya, ekonomis, etnis, gender. Realitas itu dapat dibentuk secara local dan spesifik; realitas itu partisipatif atau subyektif-objektif dan dibuat oleh pikiran dan lingkungan tertentu.
Ø  Segi epistemology, paradigm positivis beranggapan bahwa yang mengetahui dan yang diketahui berdiri sendiri dan tidak harus saling mempengaruhi sehingga pengetahuan itu objektif dan penemuan penelitian itu benar. Paradigma post-positivis tidak lagi mempertahankan kemandirian yang mengetahui dan yang diketahui, tetapi masih memetingkan objektivitas dengan criteria eksternal, pengetahuan yang ada dan para penilai. Bagi post-positivis, penemuan penelitian itu hanya mungkin benar (dualis dan objektivis yang diperlunak.
Ø  Segi metodologi, paradigma positivis bersifat eksperimental dan manipulative, serta merupakan upaya verifikasi hipotesis, terutama dengan metode kuantitatif. Paradigma post-positivis bersifat eksperimental dan manipulative yang dikoreksi, misalnya dengan penggunaan lebih dari satu metode, mencakupmetode-metode kualitatif, dengan upaya untuk menunjukkan kesalahan hipotesis.Variasi post-positivis yang lain, dari segi metodologi, bersifat dialogis dan dialektikal (teori kritis), hermeneutic dan dialektikal (konstruktivis), partisipasi politik dalamtindakan penelitian yang berdasarkan kerja sama di antara mereka yang terlibat dalam penelitian dan mengutamakan pengetahuan yang praktikal serta memakai bahasa berdasarkan konteks eksperimental bersama (partisipatori)
Ø  .Dari segi aksiologi, positivis dan post-positivis menganggap bahwa hal mengetahui secara proporsional mengenai dunia adalah tujuan, bukan alat, dan secara intrinsic bernilai
Penelitian Teologi dan Keagamaan: Positivis atau Post-Positivis
Penelitian melekat pada teologi. Tidak ada teologi tanpa penelitian. Tanpa penelitian, orang tidak bisa berteologi. Dalam kata teologi terkandung pengertian ilmu, yaitu kegiatan manusia yang didasarkan pada pengamatan, akal budi, analisis, dan argumentasi, tidak didasarkan pada kepercayaan. Jadi, apakah penelitian teologi itu berparadigma positivis atau post-positivis?

Beberapa Anggapan:

Witkamp (1992:40,47) dalam Andreas Subagyo:
Tidak ada metode-metode khusus dalam penelitian teologi. Teologi hanya menggunakan metode metode dari ilmu-ilmu  lain.

John Titaley (1994) dalam Andreas B. Subayo:
Teologi adalah bagian dari ilmu social sehingga metode penelitian yang diterapkan adalah metode ilmu social

Yang lain, dalam Andreas Subagyo
Penelitian keagamaan secara khusus tidak ada dan tidak perlu ada karena objeknya sendiri telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari pemeluk agama. Oleh karena itu, keagamaan dapat diselidiki melalui sosiologi, arkeologi, sejarah, ekonomi, psikologi, antropologi. Jadi penelitian teologi itu mengikuti ilmu-ilmu lain, khususnya ilmu social atau berdasarkan paradigma penelitian ilmu social.

Andreas B. Subagyo

Penelitian dalam bidang teologi tidak sama dengan bidang sains. Penelitian teologi, dalam arti sempit, tidak termasuk penelitian ilmiah. Karena refleksi dengan akal budi dalam teologi menekankan ide-ide di luar kenyataan indrawi. Dalam pengertian tersebut, teologi bukanlah sains karena menangani objek yang supersensible. Penelitian teologi memang berbeda walaupun tidak sama  sekali berbeda dengan penelitian bukan teologi. Akan ada masalah jika metode penelitian sains diterapkan secara ketat dalam studi agama. Walaupun demikian, sampai pada batas-batas tertentu, cirri-ciri riset dengan paradigma positivis dimiliki juga oleh penelitian teologi dan keagamaan. Namun, metode penelitian ilmu lain tidak dapat dipakai sepenuhnya dan tidak mencukupi dalam penelitian teologi.
Bila penelitian teologi mengikuti ancangan ilmu social yang subjektivis maka peneliti akan berpegang pada hal-hal berikut, yaitu:
a.    Nominalisme, yaitu kepercayaan bahwa realitas itu ada di dalam pikiran atau hasil kesadaran seseorang.
b.    Antipositivisme, yaitu pengetahuan mengenai realitas itu tidak kasat mata, subjektif, spiritual, transenden dan tidak dapat dikumpulkan atau disalurkan, tetapi harus dialami.
c.    Voluntarisme yaitu orang bebas dari menjalankan peran proaktif atau peran pengendali dalam membentuk lingkungan atau realitasnya sendiri.
d.    Metode Ideografik, yaitu metode penyelidikan gejala dengan memperhatikan bagaimana orang secara aktif membentuk, mengubah, dan memahami dunia tempat mereka hidup. Penyelidikan dilakukan dengan masuk ke dalam situasi kehidupan mereka sehari-hari, lalu menganalisisnya untuk menghasilkan pernyataan yang subjektif.
Bila penelitian teologi mengikuti ancangan ilmu social yang objektivis maka peneliti akan berpegang pada hal-hal berikut, yaitu:

a.    Realisme, yaitu kepercayaan bahwa realitas itu berada di luar seseorang
b.    Positivisme, yaitu kepercayaan bahwa pengetahuan mengenai realitas itu keras, kasat mata, nyata/konkret.
c.    Determinisme, yaitu kepercayaan bahwa orang adalah produk lingkungan dan keadaan sekitarnya
d.    Metode Nometetik, yaitu metode sains untuk menguji hipotesis sesuai dengan persyaratan ilmiah yang ketat.
Ancangan mana yang harus diikuti peneliti teologi, apakah subjektivis, objektivis, atau kedua-duanya? Ada teolog yang memakai positivis dan ada pula post-positivis.

Objek penelitian teologi
Ada yang menyatakan bahwa objek penelitian ilmu-ilmu social dengan ilmu teologi tidak sama, dan ada pula yang menyatakan sama. Ada yang menyatakan bahwa objek penelitian teologi itu bukan Allah, melainkan pengalaman manusia mengenai Allah. Ada yang menyatakan bahwa objek material penelitian teologi dan ilmu-ilmu social itu sama, tetapi objek formanya (sudut pandang) berbeda.Objek material penelitian teologi dapat sama dengan objek penelitian ilmu sastra dan sejarah, misalnya dokumen-dokumen dan peninggalan-peninggalan. Peneliti ilmu social mepenjelasannelitinya dalam sudut pandang sejarah dunia tetapi peneliti teologi menelitinya dalam sudut pandang/tinjauan ketuhanan dan keagamaan atau tinjauan teologis. Objek material penelitian ilmu kemanusiaan, yaitu manusia diteliti dari sudut pandang psikologi atau sosiologi tetapi Teologi dapat meneliti dari aspek tinjauan teologis tentang manusia.

Fungsi Penelitian Menurut Positivis
Penelitian berfungsi menyediakan prinsip-prinsip umum, menetapkan fakta, meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan atau menafsirkan dengan lebih baik, memecahkan masalah yang membingungkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya tidak terjawab, serta menyediakan teori. Dengan kata lain, penelitian menyediakan pengetahuan mengenai bidang tertentu berupa penjelasan yang dapat meningkatkan praktik yang terkait.

Fungsi Penelitian Menurut Post-Positivis
Penelitian berfungsi menyediakan kebenaran yang tepat, menyediakan informasi yang autentik

2.    Ancangan dan rancangan penelitian
Pada dasarnya ada dua ancangan penelitian yang dapat dipilih, yaitu ancangan positivis (ancangan kuantitatif) dan post-positivis (ancangan kualitatif)
3.    Penelitian Eksperimental dan kuasi-eksperimental adalah penelitian yang menggunakan eksperimen dan kuasi eksperimen yang didalamnya terdapat variable bebas dan terikat. Ciri-ciri penelitian eksperimental:peneliti dapat mengubah sendiri tingkatan sebuah variable, Variabel sengaja dibuat berbeda-beda, ada variable pengaruh atau variable bebas dan ada variable terikat. Ada treatment yaitu tindakan mengubah variable bebas. Dalam eksperimen, kelompok subjek eksperimen yang menerima treatment dibandingkan dengan kelompok lain yang sebanding, tetapi tidak mendapat treatment. Kelompok yang terakhir itu dinamakan kelompok pengendali (pengawas)
4.    Penelitian Kuantitatif bukan Eksperimental meliputi penelitian survey, penelitian pengamatan sistematik, Analisis Isi/penelitian pengamatan, penelitian kausal komparatif, penelitian korelasional, penelitian untuk prakiraan, penelitian evaluasi, penelitian dan pengembangan
5.    Penelitian Kualitatif Bukan Eksperimental seperti: Grounded Theory, etnografi, Fenomenologi, studi kasus, Hermeneutik, Riset Teologi Biblika (teologi eksegesis dan kajian Alkitab). Riset Teologi Biblika dengan metode riset sbb: Penerjemahan, Kritik Teks, Kritik Sumber, Kritik Bentuk, Kritik Redaksi, Kritik Retorik, Strukturalisme, Kritik Tanggapan pembaca, Kritik Dekonstruktif, Kritik Femenisme, Kritik Sosial, dll.
6.    Penelitian Kesejarahan yaitu penelitian yang berkait dengan makna terdalam dan saling berhubungan antara peristiwa-peristiwa lampau dan suatu masalah.

Sumber: Andreas B. Subagyo, Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif Termasuk Riset Teologi dan Keagamaan, Bandung : Kalam Hidup, 2004

Submit blog