Minggu, 07 Agustus 2011

Pengertian dan Konsep-konsep Dasar Penelitian Ilmiah


Metodologi Penelitian Pendidikan Keagamaan (PAK dan Teologi)
Oleh: Yonas Muanley
Deskripsi
Melalui pembahasan ini, para pembaca yang sedang berusaha mengadakan penelitian ilmiah dalam bidang disiplin ilmu Teologi dan Pendidikan agama Kristen dapat memperoleh informasi ilmiah di sekitar metodologi penelitian.
Penelitian selalu dimulai dengan system filsafat ilmu yang tidak dapat dihindari oleh peneliti manapun, aksioma itu  yaitu ontology, epistemology dan aksiology. Ketiga bidang ini bila dikaitkan dengan penelitian dalam Teologi (baik jurusan biblika, misiologi, sejarah, pastoral dll) dan Pendidikan Agama Kristen maka dalam penelitian Teologi dan PAK juga harus bersinggungan dengan ontology Teologi/ontology Pendidikan Agama Kristen yaitu hakekat apa yang diteliti. Apakah yang diteliti itu benar-benar ada (realitas). Epistemology Teologi dan Epistemology Pendidikan Agama Kristen yaitu bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar terhadap apa yang diteliti. Ini berarti, metode penelitian termasuk bagian dari epistemology (cara mendapatkan pengetahuan yang benar), sedangkan aksiology Teologi dan Aksiology Pendidikan Agama Kristen yaitu sejauh mana apa yang diteliti memiliki nilai atau kegunaan bagi kehidupan manusia. Aspek yang terakhir berkenaan juga dengan etika (benar-salah)  dan estetika (nilai keindahan, keharmonisan). Aspek-aspek ini tidak dapat dihindari dalam suatu penelitian Ilmiah.
Sekarang saya mulai dengan bagian pertama dari Metodologi Penelitian, yaitu pengertian penelitian
1.    Pengertian Metodologi Penelitian
Definisi Penelitian Ilmiah (Tesis)
1.    Penelitian Ilmiah (Tesis) adalah suatu usaha untuk mengumpulkan, mencatat dan menganalisa sesuatu masalah.
2.    Penelitian Ilmiah (Tesis) suatu penyelidikan secara sistematis, atau dengan giat dan berdasarkan ilmu pengetahuan mengenai sifat-sifat daripada kejadian atau keadaan-keadaan dengan maksud untuk akan menetapkan faktor-faktor pokok atau akan menemukan paham-paham baru dalam mengembangkan metode-metode baru.
3.    Penelitian Ilmiah (Tesis) adalah suatu penyedilidikan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan utnuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati serta sistematis.
4.    Penelitian Ilmiah (Tesis) adalah usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan usaha mana dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmiah.
5.    Penelitian Ilmiah (Tesis) pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.
 Kesimpulan:
  1. Penelitian Ilmiah Tesis adalah usaha untuk memperoleh fakta-fakta atau mengembangkan prinsip-prinsip (menemukan/mengembangkan/ menguji kebenaran).
  2. Penelitian Ilmiah Tesis dilakukan dengan cara/kegiatan mengumpulkan, mencatat dan menganalisa data (informasi/keterangan)
  3. Penelitian Ilmiah Tesis dikerjakan dengan sabar, hati-hati, sistematis dan berdasarkan ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah.

2.    Konsep-konseop dasar penelitian ilmiah yang perlu diketahui sebelum meneliti

Apa yang perlu diketahui dan dilakukan oleh Peneliti, khususnya saya.
Saya harus mengetahui Konsep-konsep dasar Penelitian Ilmiah. Artinya “sebelum seseorang mengusulkan, melaksanakan penelitian, dan melaporkan hasilnya, ia perlu memahami konsep-konsep dasar mengenai penelitian”. Konsep-konsep dasar penelitian itu meliputi:
1.    Arti dan Fungsi Penelitian menurut Paradigma Positivis, paradigm Post-Positivis, penelitian Teologi dan Keagamaan dengan pendekatan positivis maupun Post-Positivis serta fungsi Penelitian.
Arti dan fungsi penelitian bergantung pada paradigma dari pemberi arti penelitian. Bila paradigmanya positivis (penganut penelitian kuantitatif) maka definisi penelitian tentu dirumuskan berdasarkan pandangan positivis, sebaliknya bila yang memberi arti penelitian adalah seorang penganut paradigma psot-positivis (penganut penelitian kualitatif) maka rumusan tentang arti penelitian akan berangkat dari sudut pandang penelitian kualititif. Walaupun ada perbedaan tetapi asumsi dan proposisi atau perangkat aksioma (prinsip atau aturan yang ditetapkan) berhubungan dengan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan filosofis penelitian yang berangkat dari kedua paradigma di atas tidak dapat menghindari beberapa pertanyaan berikut ini:
1)    Pertanyaan ontologis                : pertanyaan mengenai bentuk dan sifat realitas yang dapat diketahui. Dengan kata lain, apa hakekat penelitian (objek yang diteliti benar-benar ada?). Meneliti kucing, apakah kucing dalam realitas atau kucing dalam ide. Hakekat Sorga, Naraka dll.
2)    Pertanyaan epistemology        : pertanyaan mengenai hubungan antara yang mengetahui dan yang dapat diketahui. Dengan kata lain, apakah pengetahuan yang dimiliki sesuai dengan kenyataan (bagaimana yang dapat pengetahuan yang benar tentang objek yang diteliti). Cara mendapatkan pengetahuan yang benar
3)    Pertanyaan metodologis          : pertanyaan mengenai cara mengetahui yang dapat diketahui. Metode mana yang dipakai untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang obyek yang diteliti.
4)    Pertanyaan aksiologis : pertanyaan mengenai jenis pengetahuan apa yang bernilai. Apakah hasil penelitian yang akan saya lakukan itu memiliki kegunaan.
Pertanyaan-pertanyaan di atas mempengaruhi pandangan seseorang tentang fungsi penelitian, khususnya Penelitian Pendidikan Agama Kristen.
a.    Arti Penelitian Menurut Paradigma Positivis
Penelitian Ilmiah atau riset adalah mengetahui dan atau berpikir ilmiah dengan cirri riset: pengendalian prasangka (bias) atau mengurangi prasangka terhadap data/data tidak diartikan secara gegabah berdasarkan criteria selera pribadi melainkan bertindak netral dalam mengumpulkan data dan menganalisisnya; upaya ketepatan yaitu dapat dipercaya, menuntut adanya pengukuran yang tepat; Verifikasi yaitu peneliti melaporkan hasil penelitian yang kemudian dapat diteliti oleh orang lain baik untuk menguatkan teori maupun menolak teori/hasil penelitian sebelumnya; Empirisme yaitu pengetahuan yang dibangun harus berdasarkan pengetahuan pada pengamatan peristiwa-peristiwa tertentu yang dilakukan secara cermat;konstruksi teori yaitu upaya menyusun toeri yang dapat menjelaskan gejala yang diteliti.
b.    Arti penelitian menurut paradigma post-positivis (paradigma penelitian kualitatif). Paradigma post-positivis didasarkan pada aksioma bahwa realitas atau yang benar itu lebih dari satu, merupakan hasil bentukan, dan holistic; hubungan antara yang mengetahui dan yang diketahui tidak dipisahkan dan interaktif; tidak mungkin melalkukan generalisasi yang bebas waktu dan konteks, dan hipotesis yang dapat dibuat hanyalah yang terikat waktu dan konteks; tidak ada sebab yang sebenarnya karena semua entitas dalam keadaan secara serempak saling membentuk; serta penelitian itu terikat pada nilai. Berdasarkan Aksioma ini, arti penelitian adalah sebuah pencarian kebenaran yang sistematik, penyelidikan kebenaran yang tepat yang tidak membuang apa yang baik dari pencarian kebenaran secara naïf.

Ciri-ciri yang perbedaan variasi paradigma post-positivis (paradigma partisipatori) dengan paradigma positivis yaitu:

Ø  Segi Ontologi, positif percaya pada realitas yang sebanarnya dapat dipahami. Sedangkan menurut post-positivis, realitas dapat dipahami, tetapi tidak secara sempurna dan hanya secara kemungkinan. Realitas itu dapat dibentuk oleh nilai-nilai social, politik, budaya, ekonomis, etnis, gender. Realitas itu dapat dibentuk secara local dan spesifik; realitas itu partisipatif atau subyektif-objektif dan dibuat oleh pikiran dan lingkungan tertentu.
Ø  Segi epistemology, paradigm positivis beranggapan bahwa yang mengetahui dan yang diketahui berdiri sendiri dan tidak harus saling mempengaruhi sehingga pengetahuan itu objektif dan penemuan penelitian itu benar. Paradigma post-positivis tidak lagi mempertahankan kemandirian yang mengetahui dan yang diketahui, tetapi masih memetingkan objektivitas dengan criteria eksternal, pengetahuan yang ada dan para penilai. Bagi post-positivis, penemuan penelitian itu hanya mungkin benar (dualis dan objektivis yang diperlunak.
Ø  Segi metodologi, paradigma positivis bersifat eksperimental dan manipulative, serta merupakan upaya verifikasi hipotesis, terutama dengan metode kuantitatif. Paradigma post-positivis bersifat eksperimental dan manipulative yang dikoreksi, misalnya dengan penggunaan lebih dari satu metode, mencakupmetode-metode kualitatif, dengan upaya untuk menunjukkan kesalahan hipotesis.Variasi post-positivis yang lain, dari segi metodologi, bersifat dialogis dan dialektikal (teori kritis), hermeneutic dan dialektikal (konstruktivis), partisipasi politik dalamtindakan penelitian yang berdasarkan kerja sama di antara mereka yang terlibat dalam penelitian dan mengutamakan pengetahuan yang praktikal serta memakai bahasa berdasarkan konteks eksperimental bersama (partisipatori)
Ø  .Dari segi aksiologi, positivis dan post-positivis menganggap bahwa hal mengetahui secara proporsional mengenai dunia adalah tujuan, bukan alat, dan secara intrinsic bernilai
Penelitian Teologi dan Keagamaan: Positivis atau Post-Positivis
Penelitian melekat pada teologi. Tidak ada teologi tanpa penelitian. Tanpa penelitian, orang tidak bisa berteologi. Dalam kata teologi terkandung pengertian ilmu, yaitu kegiatan manusia yang didasarkan pada pengamatan, akal budi, analisis, dan argumentasi, tidak didasarkan pada kepercayaan. Jadi, apakah penelitian teologi itu berparadigma positivis atau post-positivis?

Beberapa Anggapan:

Witkamp (1992:40,47) dalam Andreas Subagyo:
Tidak ada metode-metode khusus dalam penelitian teologi. Teologi hanya menggunakan metode metode dari ilmu-ilmu  lain.

John Titaley (1994) dalam Andreas B. Subayo:
Teologi adalah bagian dari ilmu social sehingga metode penelitian yang diterapkan adalah metode ilmu social

Yang lain, dalam Andreas Subagyo
Penelitian keagamaan secara khusus tidak ada dan tidak perlu ada karena objeknya sendiri telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari pemeluk agama. Oleh karena itu, keagamaan dapat diselidiki melalui sosiologi, arkeologi, sejarah, ekonomi, psikologi, antropologi. Jadi penelitian teologi itu mengikuti ilmu-ilmu lain, khususnya ilmu social atau berdasarkan paradigma penelitian ilmu social.

Andreas B. Subagyo

Penelitian dalam bidang teologi tidak sama dengan bidang sains. Penelitian teologi, dalam arti sempit, tidak termasuk penelitian ilmiah. Karena refleksi dengan akal budi dalam teologi menekankan ide-ide di luar kenyataan indrawi. Dalam pengertian tersebut, teologi bukanlah sains karena menangani objek yang supersensible. Penelitian teologi memang berbeda walaupun tidak sama  sekali berbeda dengan penelitian bukan teologi. Akan ada masalah jika metode penelitian sains diterapkan secara ketat dalam studi agama. Walaupun demikian, sampai pada batas-batas tertentu, cirri-ciri riset dengan paradigma positivis dimiliki juga oleh penelitian teologi dan keagamaan. Namun, metode penelitian ilmu lain tidak dapat dipakai sepenuhnya dan tidak mencukupi dalam penelitian teologi.
Bila penelitian teologi mengikuti ancangan ilmu social yang subjektivis maka peneliti akan berpegang pada hal-hal berikut, yaitu:
a.    Nominalisme, yaitu kepercayaan bahwa realitas itu ada di dalam pikiran atau hasil kesadaran seseorang.
b.    Antipositivisme, yaitu pengetahuan mengenai realitas itu tidak kasat mata, subjektif, spiritual, transenden dan tidak dapat dikumpulkan atau disalurkan, tetapi harus dialami.
c.    Voluntarisme yaitu orang bebas dari menjalankan peran proaktif atau peran pengendali dalam membentuk lingkungan atau realitasnya sendiri.
d.    Metode Ideografik, yaitu metode penyelidikan gejala dengan memperhatikan bagaimana orang secara aktif membentuk, mengubah, dan memahami dunia tempat mereka hidup. Penyelidikan dilakukan dengan masuk ke dalam situasi kehidupan mereka sehari-hari, lalu menganalisisnya untuk menghasilkan pernyataan yang subjektif.
Bila penelitian teologi mengikuti ancangan ilmu social yang objektivis maka peneliti akan berpegang pada hal-hal berikut, yaitu:

a.    Realisme, yaitu kepercayaan bahwa realitas itu berada di luar seseorang
b.    Positivisme, yaitu kepercayaan bahwa pengetahuan mengenai realitas itu keras, kasat mata, nyata/konkret.
c.    Determinisme, yaitu kepercayaan bahwa orang adalah produk lingkungan dan keadaan sekitarnya
d.    Metode Nometetik, yaitu metode sains untuk menguji hipotesis sesuai dengan persyaratan ilmiah yang ketat.
Ancangan mana yang harus diikuti peneliti teologi, apakah subjektivis, objektivis, atau kedua-duanya? Ada teolog yang memakai positivis dan ada pula post-positivis.

Objek penelitian teologi
Ada yang menyatakan bahwa objek penelitian ilmu-ilmu social dengan ilmu teologi tidak sama, dan ada pula yang menyatakan sama. Ada yang menyatakan bahwa objek penelitian teologi itu bukan Allah, melainkan pengalaman manusia mengenai Allah. Ada yang menyatakan bahwa objek material penelitian teologi dan ilmu-ilmu social itu sama, tetapi objek formanya (sudut pandang) berbeda.Objek material penelitian teologi dapat sama dengan objek penelitian ilmu sastra dan sejarah, misalnya dokumen-dokumen dan peninggalan-peninggalan. Peneliti ilmu social mepenjelasannelitinya dalam sudut pandang sejarah dunia tetapi peneliti teologi menelitinya dalam sudut pandang/tinjauan ketuhanan dan keagamaan atau tinjauan teologis. Objek material penelitian ilmu kemanusiaan, yaitu manusia diteliti dari sudut pandang psikologi atau sosiologi tetapi Teologi dapat meneliti dari aspek tinjauan teologis tentang manusia.

Fungsi Penelitian Menurut Positivis
Penelitian berfungsi menyediakan prinsip-prinsip umum, menetapkan fakta, meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan atau menafsirkan dengan lebih baik, memecahkan masalah yang membingungkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya tidak terjawab, serta menyediakan teori. Dengan kata lain, penelitian menyediakan pengetahuan mengenai bidang tertentu berupa penjelasan yang dapat meningkatkan praktik yang terkait.

Fungsi Penelitian Menurut Post-Positivis
Penelitian berfungsi menyediakan kebenaran yang tepat, menyediakan informasi yang autentik

2.    Ancangan dan rancangan penelitian
Pada dasarnya ada dua ancangan penelitian yang dapat dipilih, yaitu ancangan positivis (ancangan kuantitatif) dan post-positivis (ancangan kualitatif)
3.    Penelitian Eksperimental dan kuasi-eksperimental adalah penelitian yang menggunakan eksperimen dan kuasi eksperimen yang didalamnya terdapat variable bebas dan terikat. Ciri-ciri penelitian eksperimental:peneliti dapat mengubah sendiri tingkatan sebuah variable, Variabel sengaja dibuat berbeda-beda, ada variable pengaruh atau variable bebas dan ada variable terikat. Ada treatment yaitu tindakan mengubah variable bebas. Dalam eksperimen, kelompok subjek eksperimen yang menerima treatment dibandingkan dengan kelompok lain yang sebanding, tetapi tidak mendapat treatment. Kelompok yang terakhir itu dinamakan kelompok pengendali (pengawas)
4.    Penelitian Kuantitatif bukan Eksperimental meliputi penelitian survey, penelitian pengamatan sistematik, Analisis Isi/penelitian pengamatan, penelitian kausal komparatif, penelitian korelasional, penelitian untuk prakiraan, penelitian evaluasi, penelitian dan pengembangan
5.    Penelitian Kualitatif Bukan Eksperimental seperti: Grounded Theory, etnografi, Fenomenologi, studi kasus, Hermeneutik, Riset Teologi Biblika (teologi eksegesis dan kajian Alkitab). Riset Teologi Biblika dengan metode riset sbb: Penerjemahan, Kritik Teks, Kritik Sumber, Kritik Bentuk, Kritik Redaksi, Kritik Retorik, Strukturalisme, Kritik Tanggapan pembaca, Kritik Dekonstruktif, Kritik Femenisme, Kritik Sosial, dll.
6.    Penelitian Kesejarahan yaitu penelitian yang berkait dengan makna terdalam dan saling berhubungan antara peristiwa-peristiwa lampau dan suatu masalah.

Sumber: Andreas B. Subagyo, Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif Termasuk Riset Teologi dan Keagamaan, Bandung : Kalam Hidup, 2004

0 komentar:

Poskan Komentar

PARTNERS PENGHASIL UANG